Zulyun’s Blog

Just another WordPress.com weblog

kultur jaringan pisang tanduk


PROPOSAL PROYEK KULTUR JARINGAN I

PROGRAM ALIH JENJANG D3-D4

BIDANG KULTUR JARINGAN TANAMAN

PENGARUH BAP DAN IAA TERHADAP

PERBANYAKAN TUNAS PISANG TANDUK

SECARA IN-VITRO


Gajah Putih-2

Nama Mahasiswa / NIM : ZULKIFLI B

Pembimbing :Ir. Atat budiarta MP


FEBRUARI 2009

SITH ITB – VEDCA – SEAMOLEC


LEMBAR PENGESAHAN

USULAN PENELITIAN

PROYEK KULTUR JARINGAN TANAMAN I

Judul Penelitian                    : PENGARUH BAP DAN IAA TERHADAP PERBANYAKAN TUNAS PISANG TANDUK SECARA IN-VITRO

1. Pelaksana

  1. Nama
  2. NIM
  3. Fakultas
  4. Jurusan

:

:

:

:

ZULKIFLI B

SITH

Kultur Jaringan Tanaman

2. Lokasi Penelitian

:

Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman VEDCA Cianjur

3. Waktu Penelitian

:

Maret s.d Agustus 2009

Cianjur,14 Februari 2009

Menyetujui,

Kepala Laboratorium Kultur Jaringan Peneliti,

VEDCA Cianjur

(Ir.atat budiarta MP) ZULKIFLI                                 NIP: NIM:D4 o8 KJ 041


BAB I

PENDAHULUAN

Spesies tanaman dan zat pengatur tumbuh dalam tanaman akan menghasilkan tunas atau akar (George dan sherrinton, 1984). Konsentrasi sitokinin yang tinggi dibandingkan auksin akan merangsang inisiasi tunas; sedangkan konsentrasi auksin yang relatif tinggi akan merangsang inisiasi akar.penggunaan sitokinin dalam media kultuir in-vitro bertujuan merangsang tumbuhan mata tunas samping dan mencegah dominansi tunas apikal.

1.1 LATAR BELAKANG

Pisang merupakan salah satu buah tropis yang penting, produksinya menempati urutan ketiga setelah mangga dan jeruk . buah ini banyak digemari oleh masyarakat, baik di dalam negri maupun luar negeri. Pisang dapat dikonsumsi dalam bentuk segar sebagai buah meja atau konsumsi dalam bentuk gorengan, oleh karena itu pisang dianggap sebagai komoditas penting sehingga ada lembaga dunia yang mengurusi masalah pisang, yaitu Internasional Network for Improvment of Banana and plantain (INIBAP).

Produksi pisang di Indonesia rata-rata 3,2 juta ton per tahun (tabel 1). Diperkirakan 1,5 juta ton di antaranya merupakan pisang meja untuk konsumsi segar. Bila diasumsikan sekitar 60% (120 juta) dari jumlah penduduk indonesia (200 juta) menyukai pisang maka konsumsi pisang hanya 12,5 kg/orang/tahun atau 34,2 g/orang/hari. Padahal berat pisang ambon kuning saja sekitar 100g. Ini berarti kemampuan penyediaan buah pisang untuk konsumsi buah meja masih sangat kecil karena masih jauh di bawah berat rata-rata buah pisang.

1.2 TUJUAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi sitokinin (BAP) dan auksin (IAA) untuk multiplikasi tunas pisang.

BAB II

METODE PENELITIAN

2.1 Waktu dan tempat

Penelitian dilaksanakan di laboratorium kultur jaringan VEDCA Cianjur, dimulai pada bulan februatri 2009 hingga september 2009.

2.2 Alat dan bahan

2.2.1. Alat

No

Nama Alat

No

Nama Alat

No

Nama Alat

1

Lafc

1

Kaca alas

1

Timbangan

2

Autoclave

2

Pisau

2

Kreta dorong

3

Botol kultur

3

Erlemeyer

3

Teko ukur

4

Petridis

4

Gelas ukur

4

Bola penghisap

5

Handsprayer

5

Hot plaet

5

Ember

6

Alat injeksi

6

Magnetik stirer

7

Pinset

7

Sendok/spatula

8

Gunting

8

Tebung reaksi

9

Pipet

9

Gelas piala

10

Pisau scalpelt

10

Keranjang

2.2.2. Bahan

No

Nama Alat

No

Nama Alat

1

Media MS

7

Bakterisida

2

Eksplan

8

Air steril

3

Kertas steril

9

Alkohol

4

Tisue

10

Betadin

5

Deterjen

11

Clo0rok/baiklin

6

Fungisida

12

Arang sekam

Bahan tanam (eksplan) yang di gunakan adalah rumpun pisang yang sehat dan baik yaitu anakan pisang.

2.3 Metode

Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan menggunakan 2 faktor:

2.3.1. faktor BAP dengan 3 jenis konsentrasi perlakuan yaitu B1(2,5mg/l), B2 (3mg/l), B3 (3,5mg/l) dengan kode BAP (B).

2.3.2. faktor IAA dengan 3 jenis konsentrasi perlakuan yaitu I1(1,5mg/l), I2(2mg/l), I3(2,5mg/l) dengan kode IAA (I).

DENGAN PERBANDINGAN BAP DAN IAA

MS0

BAP

1

1,5

2

2,5

3

MS0

BAP 1

MS I

BAP 5

IAA 1,5

BAP 5,5

IAA 1,5

BAP 1

MS I

BAP 5

IAA 2

BAP 5,5

IAA 2

BAP 4,5

IAA 2,5

BAP 5

IAA 2,5

BAP 5,5

IAA 2,5

3 sample

3 sample

3 sample

DENGAN KODE

IAA

BAP

B1

B2

B3

I1

B1+I1

B2+I1

B3+I1

I2

B1+I2

B2+I2

B3+I2

I3

B1+I3

B2+I3

B3+I3

3 sample

3 sample

3 sample

Jumlah sample 9

Pengulangan 5 kali

Sample x Pengulangan

45 sample/botol/Kombinasi

BAB III

ANALISIS KEBUTUHAN

No

Nama Alat

Inisiasi Dan Sterilisasi

Pertumbuhan

Jumlah

Tunas dan kalus

Akar

Aklimatisasi

1

Media MS

1000 ml

1000 ml

2000 ml

2

BAP

9 mg

9 mg

3

IAA

6 mg

6 mg

4

IBA

5 mg

5 mg

5

Kasein hidrosilat

100 mg

100 mg

6

Eksplan

7

Kertas steril

8

Tisue

9

Deterjen

10 gr

10 gr

20 gr

10

Fungisida

5 gr

5 gr

10 gr

11

Bakterisida

5 gr

5 gr

10 gr

12

Aier steril

13

Alkohol

100 ml 96% dan 70%

500 ml

100 ml 96% dan 70%

200 ml

14

Betadine

1 botol

1 botol

15

Clorox /bayclyen

100 ml

100 ml

16

Sekam

17

Kompos

Jumlah

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Ir. Lily Winata Gunawan “tekhnik kultur invitro” penebar swadaya 1995

Ir. Yusnita MSc. “Kultur jaringan cara memperbanyak tanaman secara efesien” agro media

Ir. Zainal abidin “tentang zat pengatur tumbuh” Angkasa

%d bloggers like this: